Solo - Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI), Abdul Rahman Ayub, menegaskan agar segera memberikan perhatian khusus terhadap kemungkinan aksi teroris menggunakan bom nitrogliserin. Menurutnya, para pelaku teror di Indonesia saat ini telah memiliki kemampuan tingkat ahli dalam pembuatan bom berdaya ledak tinggi tersebut. Tinggal satu langkah lagi untuk menjadi sempurna.

“Mereka masih terus mengembangkan karena itu hingga saat ini bom jenis ini belum pernah digunakan dalam aksi teror. Mereka sudah berhasil membuat bom jenis nitrogliserin secara cukup bagus, namun belum mampu membuat alat pemicu yang aman, sehingga hasil rakitannya masih disimpan untuk dikembangkan lagi,” ujar Ayub dalam diskusi dengan wartawan di Solo, Rabu (16/6/2013).

Veteran perang Afghanistan yang juga pernah memimpin JI wilayah Australia tersebut mengatakan penggunaan bom nitrogliserin di kalangan teroris pada dasarnya terinspirasi dari bom-bom lempar buatan Soviet (Rusia) yang memiliki kandungan yang sama. Para teroris itu mengembangkan pembuatan bom nitrogliserin dari bom-bom milik tentara Soviet yang gagal meledak.

Ayub lebih lanjut menegaskan, jaringan teroris di Solo merupakan salah satu kelompok yang cukup serius mempelajari pembuatan bom jenis nitrogliserin. Pendapat Ayub tersebut juga dibenarkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai. Menurut Mbai kelompok Badri dan kelompok Ab Hanifah di Solo adalah salah satu simpul penting dari jaringan kelompok bom nitrogliserin.

“Para perakit bom ini mendapatkan keahliannya di Poso. Ada sekitar 300 orang yang berlatih membuat bom, baru sekitar 100 orang yang telah tertangkap. Memang dari semua ahli perakitan bom itu semuanya menguasai pembuatan bom nitrogliserin. Ada beberapa kelompok kecil kemudian mencoba mengembangkannya. Yang dikhawatirkan jika mereka menularkan keahliannya itu ke kelompok lain,” ujarnya.